Posted by: donasofia | 01/04/2011

Ketika kuputuskan menjadi Ibu Rumah Tangga….

**Tulisan ini kubuat ketika sang buah hati tercinta sedang terlelap nyenyak sambil mendekap dan mencium wangi tubuh Bapaknya**

Anakku… kelak ketika kau sudah bisa membaca dan mengerti…ini akan menjadi tulisan indah dalam hidupmu sayang !!!..

****Jujur, aku merasa beruntung sekali mempunyai belahan jiwa (suami, red) yang membebaskan dan memerdekakanku dari belenggu “KERAS”nya hidup di Ibukota…Setiap hari, kita dikebiri oleh waktu dan liarnya arus manusia yang berlomba2 mengais rupiah demi bisa survive hidup di Jakarta …Tidak usah kujabarkan bagaimana gambaran hidup di sini, pasti semua sudah tahu bagaimana rasanya NANO-NANO dari dinamika kota yang kata orang-orang tak pernah tidur ini…

Awal Februari 2010, ketika kuketahui badanku tengah berbadan dua …seketika itu juga, kuputuskan secara ikhlas dan sesadar-sadarnya untuk konsentrasi full mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak dengan tanganku sendiri…Lalu, kuceritakan hal ini kepada suami dan meminta restu padanya untuk mendukung keputusanku yang telah aku pikirkan masak-masak…Yaahh, menjadi Istri sekaligus Ibu Rumah Tangga….

Tak lama setelah kuceritakan keinginanku itu, ia-pun menyimpulkan senyuman termanisnya dan segera memeluk-ku erat sambil berkata…I’m so proud of you, sayang…Tolong jaga dan didik anak-anak yang ALLAH telah titipkan kepada kita dengan tanganmu…INSYAALLAH, aku cukupkan rezeki  yang halal buat keluarga kita melalui keringat dan kerjakerasku “….

Memang awalnya…banyak sekali yang menyayangkan keputusanku…Bagaimana tidak, sudah cape sekolah tinggi-tinggi, kerja sana-sini, pengalaman di mana-mana, ujung-ujungnya semua itu harus kukubur perlahan-lahan demi sebuah pencapaian kebahagian yang baru bisa kupetik kelak ketika usia menjelang senja…Nanti, ketika anak-anak sudah besar…Nanti ketika anak2 sudah berhasil, dan nanti ketika mereka sudah bisa membahagiakan sekaligus menjadi kebanggaan untuk kedua orangtuanya….

Tak bisa kupungkiri…dari sebelum dan awal menikah, suamiku tahu lahir batin bahwa aku bukanlah tipikal perempuan yang bisa mengurus rumah tangga dan betah berlama-lama di rumah dan dapur untuk hanya mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, mengurus anak, belanja di pasar atau sebangsanya…Di awal pernikahan kami, sering suamiku menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri….melihatku yang kebingungan untuk membedakan mana merica dan mana ketumbar, bagaimana menumis dan bagaimana membuat sayur berkuah, apalagi kalau harus membuat kue…Sampai-sampai kalau disuruh memasak makanan kesukaannya, akupun dengan seregap langsung mengeleng-gelengkan kepala tanda menolak karena tak bisa….

Di sisi lain… orang terkasihku itu paham betul, bahwa kebahagiaanku itu adalah ketika aku bisa mengaktualisasi diri dan menjadi center of attention di lingkungan yang aku nyaman betul berada, yaitu di dunia kerja (kantor), lingkungan pergaulan sosialku bersama teman-teman dan sahabat-sahabat dekatku… bukan di rumah atau di pasar atau bahkan di pengajian dan majelis ta’lim atau kegiatan-kegiatan serupa seperti itu…

Bagiku, untuk memperoleh uang yah dengan bekerja di kantor…Senin sampai dengan Jum’at, jam 8 pagi sampai jam 5 sore…Dimana di setiap akhir bulan kita terima gaji, that’s it !!!! I’m making money itu namanya…

****Bekerja = mandiri….Perempuan itu harus mandiri jangan bergantung dengan orang lain, even suami sekalipun, termasuk dalam urusan finansial !!!!**** pikiran sempitku saat itu….

ALHAMDULILLAH…Ternyata suami tercintaku itu adalah orang yang mempunyai kesabaran yang tak bertepi…Perlahan-lahan ia mulai mematahkan kekerasan hati yang sudah begitu melekat di jiwaku…Pelan tapi pasti, sedikit demi sedikit ia mulai memberikan pemahaman-pemahaman agama kepadaku berdasarkan Al-Quran dan Hadits..Juga tak lupa, dalam hal mendidikku ia selalu berpedoman kepada perilaku dan keharmonisan rumah tangga baginda Rasululloh SAW…

Sepanjang usia pernikahan kami yang hampir memasuki angka ke-4…samasekali tak pernah kulihat dan kudengar ia mendoktrin dan memaksakan kehendaknya sebagai seorang laki-laki yang memiliki predikat imam di keluarga…Padahal aku tahu betul, ia mempunyai hak sebagai suami untuk bisa berkata : “Sebagai seorang istri kamu harus begini… kamu harus begitu… kamu harus seperti ini… kamu jangan begini, kamu ga boleh begitu, dan bla bla bla lainnnya”

Yang ada malah justru sebaliknya, semua terasa lembut dan penuh kelembutan…dan yang lebih membuat hati ini berdecak kagum adalah sifatnya yang selalu memberi contoh…Ia tak pernah malu untuk melakukan hal-hal yang lebih sepantasnya dikerjakan oleh seorang istri…seperti memasak di dapur, belanja ke pasar, mencuci baju, menyapu bahkan sampai menjemur pakaian

*Yah, semua itu ia lakukan secara ikhlas, mengajarkan dan mendidik -ku dengan contoh bukan dengan doktrin dan suruhan**….

SUBHANALLAH, ternyata memang benar…ALLAH Maha Membolak-balikkan Hati Manusia…aku yang tadinya begitu sangat keras dan kukuh dengan prinsipku, akhirnya luluh dan meleleh dengan kesabarannya mendidik dan mengajariku dengan kelembutan…Pelan-pelan kunikmati, indahnya berumahtangga dengan berbagi tugas rumah bersama, belanja ke pasar bersama, mencuci bersama, membereskan rumah bersama sampai dengan memasak bersama yang sampai detik ini  menjadi hobi favorit kami berdua di kala senggang….

ALHAMDULILLAH, tak sia-sia memang…ketika Awal Januari 2008, 6 bulan setelah kami menikah, suamiku tercinta memboyongku merantau ke negeri kangguru untuk  menemaninya menuntut ilmu selama 2 tahun di sana…Sungguh luar biasa, tak kurasakan sedikitpun “kekagetan hati dan pikiran” karena melihat bahwa di sana pekerjaan-pekerjaan rumahtangga seperti itu memang harus kita lakukan semua dengan tangan kita sendiri…Tak akan mampu dan sanggup kami membayar orang untuk membantu melakukannya seperti mudahnya kami membayar “si mbak” layaknya di Indonesia…

Terlebih lagi, ketika aku harus membantu suami bekerja untuk mencukupi semua kebutuhan hidup kami selama di sana…Tanpa rasa canggung, gengsi dan malu… kesempatan untuk bekerja yang ada di depan mata, kuambil dan kujalani semua dengan sepenuh hati…

ALHAMDULILLAH… pekerjaan sebagai klining serpis di beberapa perkantoran & pusat kebugaran, pelayan restoran, housekeeper di hotel, pengantar junkmail, tukang cuci piring, pembantu rumahtangga dan baby sitter pernah kurasakan semua Aku benar-benar bersyukur, hal inilah yang salahsatunya membuatku menjadi orang yang paling berterimakasih kepada ALLAH, karena ALLAH telah mengijinkanku pernah merasakan menjadi orang yang paling “terbawah kastanya” jika itu di negeraku…Menjadi orang yang paling bersyukur, karena pernah menikmati menjadi orang yang “tidak terlalu dihargai” jika itu di negeraku, karena pekerjaan itu dianggap  pekerjaan yang hanya mengandalkan fisik bukan otak yang akan terlihat lebih precious….

Dua (2) tahun mencicipi tinggal di negara yang hanya berjarak 4 jam saja dari Jakarta ini, tak lupa kulukis kehidupanku di sana dengan menjalin tali silaturrahim sebanyak-banyaknya dengan teman2 sejawat (sesama istri-istri yang suaminya penerima beasiswa juga) sekaligus dengan teman2 Indonesia maupun negara lain yang suaminya sudah lama menetap dan bekerja di Perth…Melalui bergaul dengan merekalah, aku semakin memantapkan diri untuk belajar lebih dalam lagi tentang Aqidah dan Tauhid melalui pengajian-pengajian dan majelis kebaikan seperti itu.

Harus kuakui, inilah titik balik dalam hidupku…Fase pernah hidup di sana-lah yang membawa, membantu dan menuntun-ku untuk mengambil keputusan terbesar dalam hidupku…berbakti sepenuhnya untuk suami dan anak-anak tercinta….

Walaupun sebenarnya, dari awal pernikahan kami, suamiku sama sekali tidak pernah melarang dan bahkan membebaskanku untuk tetap bekerja…Tapi memang ada satu pesan khusus darinya yang sampai detik ini benar-benar aku patri di hati :

” Sayang, aku tidak pernah melarang kamu untuk bekerja, tapi ingat kesibukan dengan pekerjaanmu tidak boleh melebihi sibuknya aku…Sebagai seorang istri, kamu (juga) mempunyai tanggungjawab untuk mengurus suami dan anak-anak …

Ucapan sang imam dalam hidupku itulah, yang kemudian menjadi kunci dan peganganku …Terlebih lagi ketika ALLAH sudah mempercayakan kepada kami dengan kehadiran buah hati yang sehat, lucu dan menyejukkan hati, mata dan telinga kami…maka bertambah yakinlah hatiku untuk membulatkan tekad mengasuh, menjaga, mendidik, membesarkan, menyirami akhlak dan imannya dengan tanganku sendiri

Aku benar-benar tersadar dan menyadari sepenuhnya…bahwa anak yang ALLAH titipkan di rahimku itu adalah asset dunia dan akherat buat kami berdua…Ia akan menjadi  salahsatu penentu yang akan menggiring kami menuju ke surga atau ke neraka…Lalu, kupahami dan kumaknai sungguh-sungguh, bahwa melalui seorang Ibu-lah, gerbang madrasah yang pertama dan yang utama bagi perkembangan psikologis dan mental seorang anak…Yah, anak-ku…bagi anak-anakku !!!…

YA ALLAH, tak habis-habisnya, mata, hati dan bibir ini mengucap syukur dan terimakasih…Ketika KAU beri kesempatan kepadaku merasakan berjuta nikmatnya menjadi seorang istri sekaligus ibu…

Sungguh adalah kebahagiaan tersendiri untukku, setiap kali bisa melihat dan merasakan tarikan hela nafasnya yang menderu di dekat mata dan telingaku…Adalah keindahan tersendiri buatku, ketika melihatnya menangis seakan-akan meronta membutuhkanku untuk memeluk erat tubuhnya…dan adalah kenikmatan tersendiri bagiku, setiap detik menjadi saksi mata yang pertamamenyaksikan semakin pintarnya ia hari demi hari, waktu demi waktu…

Untukmu, buah hatiku…jangan pernah kau ragukan sedetikpun setiap belaian cinta dan kasihsayang Ibu kepadamu…Tak kan pernah sejengkal-pun Ibu jauh dan berjarak darimu… Dengan naungan cinta dari-NYA, ikhlas kukubur semua asa di dada, kupendam semua egois di jiwa, hanya untuk melihatmu tumbuh menjadi anak yang sholeh dan amanah…

Untukmu, duhai kekasih hatiku…terimakasih telah kau isi relung hatiku dengan nikmatnya hati menjadi seorang istri dan Ibu yang terindah di mata…aku takkan mampu berdiri tanpa doa dan ikhlasmu !!terimakasih telah menyadarkanku bahwa menggapai surga-NYA ternyata sangatlah mudah….INSYAALLAH…

...kalianlah, hadiah terindah dalam hidup dan kehidupanku...


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: